/lnnatic/

C'est la vie/ Every opinion stated is mine unless stated otherwise//

I have this fascination with shows set in the ‘60s-’70s USA. Mindhunter, Mad Men, and more shows are on my watchlist now that I have this realization. I know, coming from a Southeast Asian perspective, this is such a faraway dream. As a POC, I would be obliterated if I were to live in that era, not to mention in the USA. Hell, I might be a cleaner or some second-class citizen, not more than how they treated women and blacks back then. This is a controversial take, but please hear me out first.

Radio: On


The soundtrack plays a major part in this. Even before watching those shows, my playlists are filled with music from the past. Lou Reed and his Velvet Underground, Joy Division, The Smiths, and every musician from that era just get my earworm dancing. The meme of a girl wishing to live in the 90s perfectly summed up what I’m feeling. I never really resonated with the '90s, so I never understood their yearning. But now I do! 


Whispers of Loneliness


There’s something that screams loneliness and a void within oneself whenever I watch those shows, especially from the female characters. Maybe it’s coming from the nuclear family facade, the old traditional life of a patriarchal family. When meals are neatly prepped, every corners are spotless clean, and the green grass is always cut. But at the same time, the women lived only in the kitchen, the men in the office, the marriage was rotting inside, and society pressured each other to secretly get their own therapist. Everyone suffered under the facade of patriarchy. Even the feminist movement just started around that year! I mean, it’s such a dumb statement to romanticize the ‘60s-’70s era of the United States. But hey, the loneliness that comes from living within the societal pressure never leaves! Loneliness is nothing but a constant resonance. 


Going Analog


It might also be coming from the pace of life, where everything is not digital yet, and every seconds are not yet bombarded by millions of pieces of information streaming into our minds. They lived rather more slowly, manually, intentionally. Yes, with more subliminal advertisements surrounding them. But at least they still read, they didn’t doom scroll; they got out of the house, not bed rotting. Radios listened, newspapers read, televisions watched, letters written and typed. There’s nothing wrong with dreaming of a slower life with analog media, right?


Living Dandy


Loafers, suits, briefcase, oh how I love everyone looking all polished. For the alternatives, too, they look like their closets are full of fun. They would wear typical, trendy pieces, without individual choice and taste. But hey, they looked like their lives were put together! It’s easy on the eyes when men dress like they mean it. Coming from today’s free will, where most men mostly dress as if they couldn’t afford clothes. I’d rather have my men in suits and ties the whole day. Again, it’s a facade for the void, and I love it! And also, maybe it’s coming from the fact that I dreamed of a traditional type of masculinity. Despite my mysandry perspective on men. After all, nothing changes! Most of them are still evil, degrading, and disrespectful, cheaters, liars, but at least they look a lot more presentable than they did back then. If they’re innately evil, why not as well make it fashionable, right? Think of Lucifer, Don Draper, The Godfather, Peaky Blinders. Those are all charming devils, literally and metaphorically.


Modern Utopia


Economy, politics, science, education, everything changes. What’s constant is only change. So, of course, every era has its own pros and cons. To me, those shows, with limited narrations and set lives, serve as a distant utopia. They could live more slowly because the industry and work environment allowed them to. They could live dandy because fast fashion was not there yet. They were able to provide for a whole family, be a trophy wife, or get their dream job, because the ladder career was real. They could be happy because they were representing the privileged ones, the men, the management, the rich, the whites. 


It would not be a utopia if I watched other shows with POC as the main character, or from the perspectives of the women who lived in those eras. Those shows are supposed to show adversity, as a reenactment of the lives lived by the most privileged people in the USA, framed in romanticized versions. And here’s me, a POC from Indonesia, working-class cishet gal who’s struggling to provide for myself in this fucked-up economy. And ironically, I’m still within a small percentage of privileged Indonesians with bachelor's and master's degrees who don’t live as a sandwich generation, living free, far from home in Jakarta. Of course, ironically, those shows would still look like a dream to me, and I’d keep watching with all these privileges. 


© Abhishek Goel

Sehari sebelum lebaran saya berniat untuk belanja di suatu supermarket, tapi sebelum bisa membelokkan setang motor ke tempat parkir saya sudah dikejutkan dengan kendaraan yang membludak hingga ke depan gerbang. Entah mereka ada keperluan membeli kue kering untuk keluarga inti, atau bahkan membeli baju baru yang akan dipamerkan lewat media sosial, saya lebih memilih untuk menginjak gas motor dan menjauhi mereka.

Hari itu cuaca kota Bandung cerah sekali, dengan langit yang sangat biru dan awan yang saling berjarak, seperti tidak ada niatan untuk menutupi lapisan ozon. Saya pikir hari itu terlalu cerah untuk hanya dihabiskan di dalam minimarket dan kosan yang sempit, jadi saya memantapkan hati untuk keliling kota sembari ngabuburit. Selama saya tidak turun dari motor dan tidak berinteraksi langsung dengan orang lain, tidak masalah kan?

Dulu saya sering sekali jalan-jalan tanpa arah seperti ini, apalagi saat masih kuliah. Ditemani teman-teman perantau yang tidak ada tujuan, kami biasanya mengelilingi Bandung dan melipir ke kafe saat dirasa sudah lelah. Seperginya teman-teman tersebut, saya biasa keliling sendirian dan beberapa kali ikut acara momotoran punya Komunitas Aleut. 

Dimulai dari Setiabudhi, saya lurus terus melewati Siliwangi dan Dago Atas sebelum balik arah ke Gedung Sate. Dari situ saya mulai memasuki jalan Supratman dan berniat terus ke Antapani. Sayangnya, saya salah belok di jalan Ahmad Yani dan malah kembali ke arah Laswi.

Tapi, isu yang akan saya sampaikan di sini sebenarnya sudah mulai terasa sejak saya melewati Jalan Supratman yang begitu panjang dan bersih. Saya melihat beberapa keluarga tunawisma duduk di trotoar di bulan Ramadhan yang terik itu.

Kebetulan, sekitar beberapa hari sebelumnya, teman semasa kuliah saya yang biasa dipanggil Padika mengunggah esai dia di Medium. Dia menulis hasil pengamatannya terhadap komunitas kelas sosial bawah dan keberadaan mereka sebagai "pelengkap" suasana romantis Jalan Braga.

Bagaikan gajah di pelupuk mata, para tunawisma yang berdiam di jalan itu melebur dengan hingar-bingar langkah kaki turis dan speaker kencang dari dalam kafe. Keberadaan mereka sangat-sangat melebur hingga sudah tidak dianggap menjadi sebuah masalah besar. Semuanya tertutupi fasad konsumerisme.

Saat corona tiba di Indonesia, semua orang langsung menutup rapat-rapat pintu dan mencari kenyamanan di balik dinding bata mereka, setidaknya untuk kalangan menengah ke atas. Jalan-jalan yang tadinya tertutupi motor dan mobil yang sibuk berlalu-lalang sekarang terbuka lebar dan menyingkap kenyataan pahit ini.

Dalam momotoran solo saya hari itu, saya beberapa kali menjumpai tunawisma yang sedang berdiam diri di bawah pohon rindang. Tidak beberapa kali pula saya bertatap mata dengan mereka. Bukan, saya bukan berniat untuk memelototi mereka dengan tidak sopan, situasi jalan yang kosong tidak sengaja mengarahkan mata saya ke mereka.

Di dalam situasi lockdown seperti ini tidak ada lagi yang menutupi mereka. Semua kepahitan hidup terpampang jelas di antara lengangnya jalanan kota besar.

WFH ini, WFH itu, bagaimana kabar orang yang tidak punya home? Jalanan ditutup, tapi bagaimana dengan orang-orang yang hidup di jalanan?

Anehnya, saat saya mencari berita tentang penanganan tunawisma oleh pemerintah saya mendapati kalimat ini: "Selama berada di penampungan, para tunawisma diberikan sosialisasi tentang pencegahan COVID-19, meminta mereka untuk kembali ke rumah masing-masing."

Pemerintah memang menampung para tunawisma untuk dites dan diedukasi tentang corona, tapi setelahnya mereka disuruh untuk kembali ke rumah, Sebenarnya ada kenyataan dibalik kalimat itu, ada sebagian tunawisma yang memilih kabur dari rumah karena berbagai kondisi hidup yang tidak kondusif. Tapi, bagaimana dengan tunawisma dalam artian harfiah?

Sebetulnya tunawisma memiliki perlindungan pemerintah, dalam situasi pandemi ataupun tidak. Dinas Sosial di tiap-tiap daerah memiliki panti yang siap menampung para gelandangan dan pengemis. Sayangnya, banyak juga dari mereka yang memilih untuk tetap di jalan karena alasan kebebasan, dan lain-lain.

Tentu mereka tidak sepenuhnya salah, pemerintah juga masih tidak tegas saat memberantas ketunawismaan di negara ini. Tidak jarang saya mendapati gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di sekitar gedung pemerintahan. Tapi di luar itu, saya tidak tahu apakah ada faktor lain yang membuat para mantan penghuni panti lebih memilih untuk kembali ke jalanan.

Pada akhirnya, saya hanya pengamat yang melintasi jalanan dengan kenyamanan motor pribadi saya. Mungkin kamu berpikir alangkah lebih baik kalau saya turun sejenak dan berbincang dengan mereka, mendengar langsung semua isu ini dari sudut pandang pertama. 

Sebenarnya saya juga berpikiran sama, tapi segenap keberanian masih saya kumpulkan. Untuk sekarang, sayangnya, saya baru bisa menulis dari sudut pandang orang berprivelese yang mencoba untuk lebih kritis dan empatik terhadap orang lain. 

https://upinteriors.com/space/photo/white-bedroom-with-floor-bed-dl-house-by-urbastudios/
 © URBAstudios

Pernah dengar konsep Minimalism dan Intermittent Fasting? Konsep minimalisme sudah banyak diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, sedangkan konsep yang satunya baru mulai sering dilontarkan para selebriti luar negeri sebagai jenis diet favorit mereka. Menariknya, kalau kamu anak kosan, dengan catatan demografik kelas menengah ke bawah, mungkin sudah lama hidup dengan konsep ini. How come? Ya karena dua konsep ini dasari hal yang sama: nggak bikin kantong kering.

Minimalisme bukan cuma estetika semata, konsep ini adalah konsep lifestyle yang akan sangat bermanfaat untuk semua jenis kalangan, khususnya anak kosan. Semua diawali saat saya sering gabut dan scrolling Pinterest. Sebagai orang yang kalau beli baju lewat online shop bisa sebulan lima kali, tidak kerasa baju saya sudah menggunung di dalam lemari. 

Saya yang saat itu sedang sering down berpikir bahwa aktivitas konsumerisme dapat membuat saya lebih bahagia, selayaknya sistem yang menawarkan kondisi hidup yang lebih baik dengan memiliki barang-barang mahal. Walaupun banyaknya baju di lemari saya amat sangat memadai untuk tidak memakai baju yang sama untuk sebulan, saya hanya pakai baju yang itu-itu saja, which is masalah yang sangat relatable untuk banyak orang.  

Saya mulai risih sendiri dengan padanan baju yang membosankan dan mulai mencari inspirasi di Pinterest. Di sinilah saya terekspos dengan Capsule Wardrobe, konsep berpakaian untuk orang-orang dengan gaya hidup minimal. Dengan hanya dua kaus, dua blus, tiga jenis celana, dan dua jenis luaran, ternyata saya bisa mempadu-padankannya untuk berbagai aktifitas selama berbulan-bulan. Dengan adanya pilihan yang terbatas, kreatifitas pun ikut jalan, waktu untuk siap-siap jadi lebih cepat, dan kata Matt D’Avila, seorang youtuber minimalisme, menyuci baju tidak akan bikin capek lagi.

Semenjak itu saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut apa sebenarnya dan bagaimana penerapan teori minimalisme. Mulai dari buku The Minimalist yang ditulis dua sahabat mantan budak kapitalisme hingga video dari Youtuber seperti Matt D’Avila dan Rachel Aust. Dari buku itu saya mengerti alasan kenapa aktivitas konsumerisme yang menghidupi kapitalisme tidak membuat saya lebih bahagia. Seperti kata The Minimalist, fokus ke aktivitas dan hubungan yang ada di hidup ini, bukan ke materi yang di akhir hanya akan menjadi tumpukan sampah. 

Saya sadar kalau yang saya harus lebih banyak keluar kosan dan melihat dunia secara langsung dibandingkan hanya rebahan dan mengharapkan sehelai kaus dengan motif polkadot akan membuat saya senang. Memang saya senang, tapi hanya sesaat bila dibandingkan dengan aktifitas nyata seperti mengikuti komunitas relawan misalnya. 

Perlu dipahami, minimalis tidak sama dengan pepatah “money won’t bring you happiness” ya. Secara personal, uang juga membantu saya untuk mengikuti kelas kerajinan dan membeli tiket kereta api untuk berlibur ke Jogjakarta, misalnya. Tapi memang semuanya kembali lagi ke hal apa yang ingin dibatasi dengan konsep minimalisme ini. 

Merasa sudah hidup seperti ini karena faktor biaya dan merasa baik-baik saja? Congrats! Karena memang hidup akan lebih berarti saat kamu tidak berpegangan dengan materi-materi fisik.

Tapi ada satu pandangan yang menyimpang, minimalisme bukan berarti barang yang kamu miliki harus berestetika minimalis ya, tapi lebih ke kegunaan barang itu sendiri. Misalkan kamu hanya punya dua kaus dengan motif yang ramai, yang notabene berseberangan dengan teori  desain minimalis, bukan berarti kamu harus membeli kaus baru dengan warna monokrom. 

Dari documenter The Minimalist, kamu bisa lihat banyak orang yang menyukai pakaian dengan berbagai macam pola dan warna tetap hidup lancar sebagai minimalis. Cocok banget kan untuk gaya hidup anak kosan melarat? Hidup minimalis itu menekankan fungsi dari materi, bukan hanya estetika untuk feed Instagram. Kalaupun iya, sah-sah saja karena toh itu hak mereka.

Untuk makan pun, konsep yang satu ini juga merembet ke minimalisme. Untuk tipe anak kosan seperti saya yang jarang ngemil dan makan berat maksimal dua kali sehari, diet ini kayanya tidak akan susah diterapkan. 

Selain karena faktor finansial, saya pikir saya tidak harus sering olahraga karenanya. Sebenarnya mau bagaimanapun pola makannya kita harus tetap rajin berolahraga, tapi beginilah logika saya yang pemalas. Saya yakin banyak anak rantau lainnya yang memiliki pola makan seperti ini, sampai saya membaca sebuah artikel seorang selebriti dengan diet Intermittent Fasting. 

Lebih dengan mengatur waktu mengkonsumsi makan daripada membatasi jenis makanan, inti dari diet yang satu ini adalah jeda waktu. Bisa dibilang mirip dengan konsep puasa setengah hari, sebagian metode dari diet ini mengharuskan kamu untuk tidak makan apapun selama 16 jam di luar jam makan siang. Selama masa “berpuasa” ini kamu boleh tetap minum ya, asal bukan minuman dengan gula seabrek seperti brown sugar dan boba milk tea. 

Tren ini mulai ngetren dicoba artis Hollywood mulai dari Kourtney Kardashian, Hugh Jackman, sampai penjaga galaksi, Chris Pratt. Jadi untuk kamu-kamu yang biasanya merapel makan, sadar nggak sadar kamu sudah hidup sehat dan modern nih.

Kalau sudah paham konsep-konsep modern yang intinya more is less ini rasanya kamu jadi lebih sah untuk menyombongkan diri. Daripada menjelaskan dengan alasan “karena aq misqueen,” sekarang kamu bisa bilang “hey, ini gaya hidup modern ala artis Hollywood.” 

Lagian apa urusan mereka ngata-ngatain anak merantau yang sedang berjuang untuk masa depan yang lebih baik? Biarin aja kamu pakai baju yang itu-itu aja dan makan seadanya, yang penting kebutuhan dasarmu sudah aman. Satu pesanku untuk sesama anak kosan di luar sana: you’re doing great sweetie.


Linna Amanda, 2020
© Linna A

Bandung, Jakarta, dan sebagian besar kota di Indonesia memang belum menerapkan hukum lockdown (karantina wilayah), tapi warganya sudah cukup pintar untuk mengikuti aturan social distancing yang marak dikampanyekan dengan slogan #DiRumahAja. Imbas dari himbauan pemerintah ini adalah kosongnya jalanan dan area publik yang sebelumnya selalu ramai, suatu kondisi yang disebut liminal space.

Liminal space adalah suatu keadaan transisi atau transformatif, keadaan di saat kamu sedang berada di antara sesuatu yang kamu tahu dan sesuatu yang tidak kamu ketahui. Kata dasarnya, “liminal,” berasal dari bahasa latin “limen” yang berarti threshold atau “ambang.” Jadi, liminal space adalah tempat atau sesuatu yang berada di ambang batas, di tengah-tengah, di antara.

Kata liminal juga dipakai untuk teori liminalitas di ranah antropologi yang lebih mengarah ke keadaan “ke-terombang-ambingan.” Di saat seseorang merasa bingung dengan latar belakang budayanya, dia akan mencoba mencari identitas yang baru. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di sini. Keilmuan arsitektur juga menggunakan istilah yang sama, di mana liminal space diartikan secara literal; suatu ruang yang mempertemukan beberapa ruang berbeda. Klik ini kalau kamu masih penasaran.

Keadaan ini bisa dirasakan secara fisik maupun non-fisik. Untuk kamu yang pernah merasakan diputusin pacar, misalnya. Kamu yang sudah terbiasa mendapatkan interaksi yang intens dan tiba-tiba tidak mendapatkan interaksi apapun mungkin akan merasa hilang arah. Kamu belum tahu ke depannya harus bagaimana karena kemarin setahu kamu dunia aman sejahtera, di sini kamu merasakan transisi non-fisik.

Sama halnya saat kamu baru lulus kuliah, meninggalkan kampung halaman untuk merantau, bahkan menunggu hasil dari dokter. Semuanya punya satu hal yang sama: menunggu untuk perubahan yang tidak tentu.

Sebenarnya situasi lockdown ini juga termasuk liminal space non-fisik. Awalnya pemerintah menghimbau warga untuk berdiam diri di rumah untuk dua minggu, dan sekarang status darurat sudah diperpanjang hingga 91 hari. Kondisi ini sesuai dengan artian liminal di mana kita sedang menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti. Apakah setelah 91 hari semuanya akan kembali seperti semula? Apakah statusnya malah akan diperpanjang? Kita semua sedang terperangkap di ruang  yang sama.

Secara fisik, konsep ini bisa dirasakan di tempat-tempat yang “seharusnya ramai tapi sepi.”  Seperti stadium sepak bola di saat tidak ada pertandingan, pusat perbelanjaan tua yang sudah jarang dikunjungi, atau gedung sekolah di malam hari.

Tempat-tempat yang berfungsi untuk kegiatan transisional juga termasuk, seperti lorong hotel, supermarket saat tengah malam, dan juga area basemen parkiran saat kamu selesai nonton bioskop tengah malam. Tidak ada yang menetap, semuanya hanya mampir sejenak.

https://hallscientific.wordpress.com/2017/11/19/weariness-of-the-unfamiliar-the-liminal-space/

Mudahnya, jika saat berada di suatu tempat kamu merasa seperti di dua dunia berbeda maka tempat itu bisa dibilang liminal space. Ada perasaan tidak enak bahkan ketakutan yang ditimbulkan saat kamu berada di tempat-tempat ini. Karena kamu sudah terbiasa dengan area publik yang difungsikan untuk kegiatan bersama, di saat tidak ada orang yang menggunakannya, atmosfirnya akan sangat berbeda.

Akhir-akhir ini, banyak yang menginformasikan keadaan liminal space di berbagai kota lewat sosial media, mulai dari Jakarta, Bandung, bahkan Italia dan New York. Tempat-tempat yang biasanya penuh dengan warga lokal dan turis tampak lengang. Sebuah pemandangan yang sangat-sangat jarang terjadi.
¿Alguna vez imaginaron cómo se vería el mundo sin humanos? Bueno, así luce hoy el planeta tierra: pic.twitter.com/wyZsqi3BAd
— Imágenes Históricas (@HistorieEnFotos) March 28, 2020

Sekilas, keadaan ini juga bisa dibilang menyeramkan karena kota-kota besar terlihat seperti situasi pasca-apokaliptik atau kota hantu. Sama halnya dengan liminal space yang sering dikatikan dengan hal-hal mistis karena auranya yang seperti dunia di antara dua dimensi. Kondisi ini sama seperti kejadian beberapa kota hantu yang ditinggalkan warganya karena kejadian alam ataupun kurangnya jaminan hidup.
Jalan Sudirman lengang hari ini. Kamu besok masih ngantor atau sudah work from home?

📷 Kompas/Agus Susanto pic.twitter.com/SD3BtcXvjP
— Gie Wahyudi (@giewahyudi) March 22, 2020

Saya sendiri terakhir melintasi kota Bandung dari Selatan ke Utara sekitar sepekan lalu. Waktu masih menunjukkan jam tiga sore, namun lengangnya jalanan sama seperti sepinya Bandung selepas jam sepuluh malam. Cuaca hari itu cukup cerah, saya yang awalnya mengendarai motor dengan kencang mulai memelankan kecepatan karena saya baru tersadar, kapan lagi jalanan Bandung di siang hari sepi seperti ini?

Sempat terpikir untuk berhenti sejenak dan memfoto keadaan, tapi saya sibuk menyerap keasrian kota kembang ini. “Bandung ternyata jalannya besar-besar,” saya pikir saat itu. Selama enam tahun tinggal di sini, baru pertama kalinya saya menyadari hal tersebut. Sebenarnya, saya terbiasa pulang malam dan pergi pagi, tapi berbeda rasanya saat mengalami hal ini di siang hari. Semuanya terasa tidak nyata, seakan-akan saya masuk ke foto-foto kota Bandung 40 tahun yang lalu.

Situasi jl Asia-Afrika menuju jl sudirman. Cuaca gerimis terlihat penjual bandros melintas pic.twitter.com/GcAhDAbzAV
— rubiyanta (@rubiyanta83) March 29, 2020

Liminal space ini merupakan sesuatu yang tidak asing untuk saya sendiri. Sebagai orang yang selalu terombang-ambing dengan pikiran dan perasaan sendiri, saya selalu mengimani konsep ini. Saya percaya kalau tidak ada yang pasti di dunia ini dan karena itulah, saya menerima bahwa mungkin memang frekuensi saya memang tepatnya di ruang-ruang tidak tentu seperti ini. 

Kembali ke situasi terkini, kondisi ini juga mendatangkan ke berita positif. Bukan hanya menurunnya potensi penularan virus, tapi juga menurunkan polusi. Berbagai media telah mengabarkan polusi di China dan Eropa yang sudah menurun dengan tajam. Dengan tidak adanya kendaran yang lalu-lalang di jalanan dan berkurangnya industri yang berjalan, alam berusaha memperbaiki kekacauan yang telah kita buat.

Liminal space mengajarkan bahwa fase transisi dan transformatif ini, walaupun memberi kecemasan dan ketidaknyamanan, juga memberi kita waktu untuk berhenti dan bernafas sejenak. Manusia yang sudah terbiasa hidup dengan tempo yang serba cepat juga harus memperlambat langkah, agar kita dapat melihat dan mengingatkan diri untuk mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan.

Saya yakin setelah lockdown ini, kita akan keluar rumah dengan lebih bersyukur. Menghargai dan menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sebelumnya tidak pernah disadari. Appreciate what you have, before it turns into what you had.

https://www.hiclipart.com/free-transparent-background-png-clipart-imohh
© Futurama

Saat saya menulis artikel ini, 23/3/19, sudah terhitung 49 korban jiwa dan 579 orang positif COVID-19 yang dikonfirmasi di seluruh Indonesia. Sistem lockdown sudah diberlakukan dan sekumpulan publik dalam jumlah besar sudah mulai ditindaklanjuti pemerintah. Di tengah kegabutan sekaligus keaktifan saya di sosial media, saya memperhatikan para netizen yang mulai sibuk mencari dan menyebarkan informasi apapun, terlepas dari keabsahannya.

Cara orang-orang dalam menyikapi virus ini bisa digambarkan lewat spektrum: spektrum kiri untuk yang paling teredukasi dan tenang, spektrum tengah yang mencoba selalu teredukasi dan tenang walaupun was-was, dan spektrum paling kanan untuk yang kurang teredukasi dan panik. Saya sendiri mencoba untuk bergerak ke spektrum paling kiri. Uniknya, atau bahkan lebih tepatnya, sayangnya, masih banyak sekali makhluk-makhluk di spektrum paling kanan.

Orang-orang di spektrum kanan ini bisa dibilang orang-orang yang mudah termakan hoaks. Setelah mendapatkan informasi, mereka tidak akan mengecek atau bahkan mengkritisi bacaannya, dan lalu panik sendiri. Masih mending kalau mereka panik sendiri, walaupun sebenarnya panik sendiri juga tidak baik karena bisa berimbas ke turunnya kesehatan batin dan lahiriah, yang bermasalah adalah saat mereka mengajak orang lain untuk ikut panik.

Semuanya di mulai dari panic buying, orang-orang yang saya pikir juga termasuk orang-orang egois. Tidak semua yang panic buying berintensi untuk mengajak orang lain untuk panik, apalagi kalau mereka merasa panik setelah melihat orang lain. Tapi saya sempat terpapar langsung oleh orang yang sampai “mengutuk” saya karena tidak mengindahkan ajakan dia untuk belanja tergesa-gesa.

Kenalan saya ini menceritakan harga bawang yang sudah mulai naik dengan tergesa-gesa dan menekankan saya untuk langsung menyetok persediaan sembako. Respon saya yang tenang anehnya membuat dia tersinggung, mungkin karena dia merasa saya tidak menanggapnya serius. Dia berkata, “awas aja kalau nanti minta ke aku karena aku bener.” yang jelas-jelas membuat saya tertegun.

Saya terheran-heran karena orang-orang ini ternyata egois sekali, apalagi orang-orang yang membeli barang sampai stok kosong melompong. Misalkan, ada pekerja yang baru bisa pulang malam dan mendapati barang yang dia butuhkan baru akan diisi ulang dalam beberapa hari kedepan, dia harus bagaimana? Sayangnya, ini sudah mulai terjadi untuk beberapa petugas medis.

Di Twitter, saya mendapati cerita seorang petugas medis yang mulai kekurangan surgical glove dan mask. Orang-orang inilah yang sangat memerlukan memakai masker dan sarung tangan untuk kontak langsung dengan pasien, bukan untuk kalian pakai ke Indom*ret. Saat petugas medis terinfeksi dan gugur, silakan berterima-kasih ke diri egois kalian yang sudah menimbun masker dan hand sanitizer, entah untuk cuan atau untuk perasaan aman semata.

Selain kepanikan untuk membeli barang, saya juga tidak mengerti apa yang didapatkan dalam menyebar kepanikan hoaks. Salah satu hoaks yang tidak jelas dan sedihnya masih ditelan bulat-bulat oleh salah seorang kenalan: corona bisa menyebar lewat tatapan mata. Ketika kenalan saya menginformasikan saya tentang hoaks itu, saya ingin menangis sedu-sedan rasanya. Hoaks ini beredar sebagaimana hoaks bekerja, lewat sosial media dan platform pesan online.

Apa yang menyebarkan hoaks itu iseng? Apa yang menyebarkan hoaks itu benci bersosialisasi dan ingin semua orang untuk berhenti berinteraksi? Saya tidak mengerti, tapi saya lebih tidak mengerti lagi dengan orang yang dengan mantapnya yakin dan meyakinkan orang lain untuk percaya dengan berita-berita yang tidak masuk akal ini.

Mungkin orang-orang yang panik ini tidak ingin panik sendiri dan memaksa orang lain panik agar mereka tidak sendirian. Tapi untuk apa panik kalau kepanikan tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula, malah membuat semuanya jatuh ke dalam kekacauan yang menjadi-jadi?

Sama halnya dengan menahan keinginan untuk berpergian ke luar rumah. Kalau kalian punya privilese untuk tetap diam di rumah, gunakanlah privelese itu sebaik mungkin, toh kalian nggak akan membusuk juga. Mungkin kalian yang memiliki imunitas tinggi akan lebih berpotensi untuk sembuh, tapi bagaimana dengan orang tua kalian dan orang-orang lain yang memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi?

Di situasi ini saya memegang erat prinsip dari seorang kontributor Channel 4 News yang sempat mengalami lockdown di Wuhan: “If I am worried now and it happens (to me), I will suffer twice.”  Perlu diingat, siaga berbeda dengan panik. Mencuci tangan dan menjaga kesehatan memang harus ditingkatkan, tapi tetap dengan jumlah pembelian sabun dan vitamin yang wajar karena semua orang berhak untuk mendapatkannya.
 Image Credit: pegipegi.com

            Have you ever been to Bosccha? Well, if you haven’t you should visit it sometime before it’s being moved. As we all know, Bosscha is known as the largest astronomical research facility in Indonesia which is located in Lembang Bandung, and has been used since 1920. In addition to a research facility, it’s also used as tourist attractions for people who want to see stars and planets through its binoculars collection. But lately, Bosccha has been advised to be moved because of the surroundings which starting to inhibit its activities.
            According to Dr. Johnny Setiawan, an astronomer from Indonesia who works at the Max Planck Institute for Astronomy, Bosscha in Bandung was not possible to be a research facility anymore. The reason is not because of its facility but its surroundings, as he said “Bandung now is already too crowded and a lot of light pollution causing that Bosscha can’t be use as astronomical observation anymore.”
            The standard for a decent observation area are; it has to be a spacious area,  not much dust, the temperature is not too hot and not much light pollution emanating from the lightsof houses and vehicles. By that, we can see that Bosscha is no longer possible to be used as a decent research facility, and according to Dr. Johnny the regions in Indonesia that can be a decent area is Nusa Tenggara Timur. He said the characteristics in NTT is almost the same as in La Sillia Chile Observatory, which is still desert and not much light pollution.
            Bosscha team already observed for a new area in Nusa Tenggara Timur, but according to Suryadi and Mahasena, Bosscha research team, to build a modern observatory a large of fund about 400 billion-500 billion is needed. By that, the governement is expected to provide care, support, and realize in this construction of new observatory, so that furthermore Bosscha can be saved not only for research facility but also education for Indonesian people.

            Dr. Johnny said that actually Indonesia has lots of potential to broaden its astronomical field, it’s better to develop Bosscha Observatorium more, so furthermore it can be the the forerunner to the development of astronomy in Indonesia. Let’s hope that the new Bosscha can be build in a more decent area and develop well. So now, before it’s been moved to far away, why don’t you visit Bosscha at least to see the amazing Binoculars collection, i suppose it won’t be regretting to visit a wonderful place like that.

Sources:
www.voaindonesia.com/a/observatorium-bosscha...-/2676270.html
nasional.republika.co.id › News › Nasional
 https://m.tempo.co/read/news/2015/03/18/058650981/proyek-properti-ancam-bosscha-ini-reaksi-ridwan-kamil
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2015/03/12/319508/observatorium-bosscha-akan-pindah-ke-ntt

Older Posts Home

IG

Topics

After Cinema Thoughts Been There Done That Design EPH Fiction How This World Works Literary Response Literature Class Movie Review Not So Gamer Thoughts Personal Poetry Pop Culture Pop Culture Recap recommendation list The Internet Loves It Thoughts of the Papers What to Watch
Powered by Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  February (1)
      • Lonely in the '60s: How That Era Speaks to Me
  • ►  2025 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (5)
  • ►  2019 (6)
    • ►  November (6)
  • ►  2017 (16)
    • ►  January (16)
  • ►  2016 (19)
    • ►  June (19)
  • ►  2014 (2)
    • ►  December (2)

Copyright © /lnnatic/. Designed & Developed by OddThemes