/lnnatic/

C'est la vie/ Every opinion stated is mine unless stated otherwise//

I have this fascination with shows set in the ‘60s-’70s USA. Mindhunter, Mad Men, and more shows are on my watchlist now that I have this realization. I know, coming from a Southeast Asian perspective, this is such a faraway dream. As a POC, I would be obliterated if I were to live in that era, not to mention in the USA. Hell, I might be a cleaner or some second-class citizen, not more than how they treated women and blacks back then. This is a controversial take, but please hear me out first.

Radio: On


The soundtrack plays a major part in this. Even before watching those shows, my playlists are filled with music from the past. Lou Reed and his Velvet Underground, Joy Division, The Smiths, and every musician from that era just get my earworm dancing. The meme of a girl wishing to live in the 90s perfectly summed up what I’m feeling. I never really resonated with the '90s, so I never understood their yearning. But now I do! 


Whispers of Loneliness


There’s something that screams loneliness and a void within oneself whenever I watch those shows, especially from the female characters. Maybe it’s coming from the nuclear family facade, the old traditional life of a patriarchal family. When meals are neatly prepped, every corners are spotless clean, and the green grass is always cut. But at the same time, the women lived only in the kitchen, the men in the office, the marriage was rotting inside, and society pressured each other to secretly get their own therapist. Everyone suffered under the facade of patriarchy. Even the feminist movement just started around that year! I mean, it’s such a dumb statement to romanticize the ‘60s-’70s era of the United States. But hey, the loneliness that comes from living within the societal pressure never leaves! Loneliness is nothing but a constant resonance. 


Going Analog


It might also be coming from the pace of life, where everything is not digital yet, and every seconds are not yet bombarded by millions of pieces of information streaming into our minds. They lived rather more slowly, manually, intentionally. Yes, with more subliminal advertisements surrounding them. But at least they still read, they didn’t doom scroll; they got out of the house, not bed rotting. Radios listened, newspapers read, televisions watched, letters written and typed. There’s nothing wrong with dreaming of a slower life with analog media, right?


Living Dandy


Loafers, suits, briefcase, oh how I love everyone looking all polished. For the alternatives, too, they look like their closets are full of fun. They would wear typical, trendy pieces, without individual choice and taste. But hey, they looked like their lives were put together! It’s easy on the eyes when men dress like they mean it. Coming from today’s free will, where most men mostly dress as if they couldn’t afford clothes. I’d rather have my men in suits and ties the whole day. Again, it’s a facade for the void, and I love it! And also, maybe it’s coming from the fact that I dreamed of a traditional type of masculinity. Despite my mysandry perspective on men. After all, nothing changes! Most of them are still evil, degrading, and disrespectful, cheaters, liars, but at least they look a lot more presentable than they did back then. If they’re innately evil, why not as well make it fashionable, right? Think of Lucifer, Don Draper, The Godfather, Peaky Blinders. Those are all charming devils, literally and metaphorically.


Modern Utopia


Economy, politics, science, education, everything changes. What’s constant is only change. So, of course, every era has its own pros and cons. To me, those shows, with limited narrations and set lives, serve as a distant utopia. They could live more slowly because the industry and work environment allowed them to. They could live dandy because fast fashion was not there yet. They were able to provide for a whole family, be a trophy wife, or get their dream job, because the ladder career was real. They could be happy because they were representing the privileged ones, the men, the management, the rich, the whites. 


It would not be a utopia if I watched other shows with POC as the main character, or from the perspectives of the women who lived in those eras. Those shows are supposed to show adversity, as a reenactment of the lives lived by the most privileged people in the USA, framed in romanticized versions. And here’s me, a POC from Indonesia, working-class cishet gal who’s struggling to provide for myself in this fucked-up economy. And ironically, I’m still within a small percentage of privileged Indonesians with bachelor's and master's degrees who don’t live as a sandwich generation, living free, far from home in Jakarta. Of course, ironically, those shows would still look like a dream to me, and I’d keep watching with all these privileges. 



Late late post drafted in 2023 and now just decided to fuck it. Let's just post it.

Air Terjun Kedung Kayang
Air Terjun Kedung Kayang
Minggu kemarin saya tidak memiliki tempat wisata yang ingin dieksplorasi, tapi untungnya salah satu teman memiliki tempat yang ingin dikunjunginya lagi. Ia sebelumnya pernah ke tempat itu bersama circle pertemanan yang lain, tetapi Ia merasa menyesal karena tidak menceburkan diri sepenuhnya ke bawah guyuran air terjun.

Mendengar penyesalannya, saya dan teman yang lain menjadi tertarik. Seberapa bagus atau asyiknya air terjun itu sampai membuat dia menyesal? Lagipula kami tidak ada ide untuk pergi ke tempat yang spesifik walaupun memang ingin berkendara jauh. Alhasil, di Sabtu pagi yang mendung (4/10/2020) kami sudah siap di atas motor masing-masing.

Perjalanan di mulai dari Jalan Raya Jogja-Magelang yang biasanya dipenuhi truk bermuatan pasir. Sebenarnya kami biasa memilih lewat jalan-jalan kecil melalui pedesaan supaya perjalanan terasa lebih rileks dan aman, tetapi saat itu jalan antar provinsi rasanya lebih efektif. Di luar dugaan, jalanan pagi itu sepi dan santai, tanpa banyak mobil dan truk yang melaju tak kira-kira.

Saat memasuki pinggiran kota Magelang, maps menunjukkan jalur ke arah Timur Laut. Kami menuruti jalur yang ditunjukkan dan syukurnya jalan yang kami lalui kecil, asri, dan menyenangkan. Karena sibuk mencuri pandang ke persawahan hijau yang ada di kiri dan kanan jalan, kami tidak sempat mengambil foto. Pokoknya saat itu mata kami benar-benar dibuat sejuk.

Setelah sampai di daerah perniagaan kecil, jalan kami mulai berliku-liku memasuki daerah pegunungan. Dari jalan-jalan menanjak yang curam, kami bisa melihat jelas Gunung Merbabu yang berdiri gagah. Kami dihadapkan pada jalan bercabang dan memilih jalur di sebelah kanan, teman saya bercerita bahwa kami bisa mengunjungi Ketep Pass jika memilih jalur yang kiri.

Dari Ketep Pass tersebut, katanya pengunjung bisa melihat lima gunung sekaligus: Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan Slamet. Teman saya bercerita pemandangannya akan bagus sekali, apalagi jika sudah memasuki senja. Untungya, selalu ada lain kali untuk tempat-tempat wisata lainnya.

Kami terus berjalan tanpa henti sampai melihat gapura pedesaan dan tanda arah menuju Air Terjun Kedung Kayang. Perjalanan yang memakan kurang lebih satu jam membuat kami semakin tidak sabar. Kami memakirkan motor dan tidak lupa mengikuti protokol COVID-19 dengan mencuci tangan dan mengecek suhu tubuh di pos tiket masuk. Biaya yang harus dibayar tidak mahal, hanya 2000 Rupiah untuk motor dan 5000 Rupiah untuk tiket masuk perorang.
Pemandangan Air Terjun Kedung Kayang dari pos masuk
Pemandangan Air Terjun Kedung Kayang dari pos masuk
Selepas dari situ, air terjunnya ternyata berada jauh di bawah titik pos masuk dan kami harus melewati jalan setapak yang menurun curam untuk sampai ke sana. Saat pertama turun sih tidak terasa capek, tapi beda lagi saat pulang. Kaki dari lutut ke bawah saya rasanya mau lepas saking curamnya, maklum sudah lama tidak olahraga. Saya sangat tidak menyarankan Bapak atau Ibu yang sudah lanjut usia untuk ke sana, mengingat saya yang masih 20an awal (dan jarang olahraga) saja ngos-ngosan maksimal.
Jalan menuju Air Terjun Kedung Kayang
Jalan menuju Air Terjun Kedung Kayang
Sesampainya di bawah, kami masih harus berjalan menyusuri aliran sungai kecil dan bebatuan licin untuk sampai tepat di bawah air terjun. Ohya, sangat disarankan memakai sendal gunung, karena teman saya yang memakai sendal jepit talinya sampai hampir putus dan orang lain yang hanya membawa sepatu jalan harus menentengnya dengan hati-hati. Walaupun medannya lumayan licin dan berbahaya, tapi aliran airnya deras, dingin, dan jernih sekali, jadi terbayarkan.
Aliran sungai yang harus dilalui
Aliran sungai yang harus dilalui
Saat tiba di bawah air terjun, siang itu tidak ada orang sama sekali. Kami bertiga langsung menceburkan diri ke kolam yang deras. Cuaca yang mendung sesuai dengan suhu air yang sejuk bahkan dingin. Angin dari hempasan air juga kencang sekali, sampai-sampai membuat basah kuyup teman yang awalnya tidak berniat mandi dan hanya berdiri di pinggiran kolam. Kami sibuk bermain sekitar tiga jam sampai ujung-ujung jari mengkerut dan menggigil, menikmati setiap guyuran air yang dikelilingi batu dan tumbuhan alami yang belum dipugar sama sekali.

Untuk yang mau menceburkan diri, jangan khawatir karena di dekat parkiran ada kamar mandi yang disediakan oleh warga, tapi ya harus melewati jalan curam menanjak yang awalnya dilewati. Intinya, harus mau basah-basahan dulu di jalan. Tapi karena airnya yang jernih dan tidak bikin gatal, saya malah baru mandi saat sudah sampai di Jogja dan membiarkan angin yang mengeringkan badan sepanjang perjalanan pulang. Jangan dicontoh ya, apalagi untuk yang mudah masuk angin.

Setelah puas berbasah-basahan, kami mampir di salah satu rumah makan di kota Magelang dan langsung kembali ke Jogja. Entah mengapa, jalan pulang selalu lebih cepat daripada jalan datang, padahal jalur yang dilalui sama persis. Mungkin juga karena lokasinya yang tidak begitu jauh dari pusat kota istimewa. 

Sepanjang jalan pulang, kami juga memerhatikan banyaknya penjual bibit tanaman di kiri-kanan jalan. Suasana pegunungan membuat saya teringat akan Bandung, bahkan Puncak, dengan kontur tanah yang kurang lebih sama. Hanya saja, pegunungan ini jauh lebih asri karena tidak banyak dilalui dan diubah untuk menjadi daerah yang terfokus untuk wisatawan.

Untuk orang-orang yang fisiknya tidak begitu kuat atau memang sedang tidak ingin berbasah-basahan, bisa juga hanya melihat air terjun dari atas. Ada warung milik warga setempat yang menyediakan minuman dan makanan instan, bahkan sudah disediakan spot foto yang bisa dijadikan bahan pamer. Tapi kalau menurut saya sih, buat apa jalan jauh-jauh kalau tidak melakukan semua yang bisa dilakukan?
© Abhishek Goel

Sehari sebelum lebaran saya berniat untuk belanja di suatu supermarket, tapi sebelum bisa membelokkan setang motor ke tempat parkir saya sudah dikejutkan dengan kendaraan yang membludak hingga ke depan gerbang. Entah mereka ada keperluan membeli kue kering untuk keluarga inti, atau bahkan membeli baju baru yang akan dipamerkan lewat media sosial, saya lebih memilih untuk menginjak gas motor dan menjauhi mereka.

Hari itu cuaca kota Bandung cerah sekali, dengan langit yang sangat biru dan awan yang saling berjarak, seperti tidak ada niatan untuk menutupi lapisan ozon. Saya pikir hari itu terlalu cerah untuk hanya dihabiskan di dalam minimarket dan kosan yang sempit, jadi saya memantapkan hati untuk keliling kota sembari ngabuburit. Selama saya tidak turun dari motor dan tidak berinteraksi langsung dengan orang lain, tidak masalah kan?

Dulu saya sering sekali jalan-jalan tanpa arah seperti ini, apalagi saat masih kuliah. Ditemani teman-teman perantau yang tidak ada tujuan, kami biasanya mengelilingi Bandung dan melipir ke kafe saat dirasa sudah lelah. Seperginya teman-teman tersebut, saya biasa keliling sendirian dan beberapa kali ikut acara momotoran punya Komunitas Aleut. 

Dimulai dari Setiabudhi, saya lurus terus melewati Siliwangi dan Dago Atas sebelum balik arah ke Gedung Sate. Dari situ saya mulai memasuki jalan Supratman dan berniat terus ke Antapani. Sayangnya, saya salah belok di jalan Ahmad Yani dan malah kembali ke arah Laswi.

Tapi, isu yang akan saya sampaikan di sini sebenarnya sudah mulai terasa sejak saya melewati Jalan Supratman yang begitu panjang dan bersih. Saya melihat beberapa keluarga tunawisma duduk di trotoar di bulan Ramadhan yang terik itu.

Kebetulan, sekitar beberapa hari sebelumnya, teman semasa kuliah saya yang biasa dipanggil Padika mengunggah esai dia di Medium. Dia menulis hasil pengamatannya terhadap komunitas kelas sosial bawah dan keberadaan mereka sebagai "pelengkap" suasana romantis Jalan Braga.

Bagaikan gajah di pelupuk mata, para tunawisma yang berdiam di jalan itu melebur dengan hingar-bingar langkah kaki turis dan speaker kencang dari dalam kafe. Keberadaan mereka sangat-sangat melebur hingga sudah tidak dianggap menjadi sebuah masalah besar. Semuanya tertutupi fasad konsumerisme.

Saat corona tiba di Indonesia, semua orang langsung menutup rapat-rapat pintu dan mencari kenyamanan di balik dinding bata mereka, setidaknya untuk kalangan menengah ke atas. Jalan-jalan yang tadinya tertutupi motor dan mobil yang sibuk berlalu-lalang sekarang terbuka lebar dan menyingkap kenyataan pahit ini.

Dalam momotoran solo saya hari itu, saya beberapa kali menjumpai tunawisma yang sedang berdiam diri di bawah pohon rindang. Tidak beberapa kali pula saya bertatap mata dengan mereka. Bukan, saya bukan berniat untuk memelototi mereka dengan tidak sopan, situasi jalan yang kosong tidak sengaja mengarahkan mata saya ke mereka.

Di dalam situasi lockdown seperti ini tidak ada lagi yang menutupi mereka. Semua kepahitan hidup terpampang jelas di antara lengangnya jalanan kota besar.

WFH ini, WFH itu, bagaimana kabar orang yang tidak punya home? Jalanan ditutup, tapi bagaimana dengan orang-orang yang hidup di jalanan?

Anehnya, saat saya mencari berita tentang penanganan tunawisma oleh pemerintah saya mendapati kalimat ini: "Selama berada di penampungan, para tunawisma diberikan sosialisasi tentang pencegahan COVID-19, meminta mereka untuk kembali ke rumah masing-masing."

Pemerintah memang menampung para tunawisma untuk dites dan diedukasi tentang corona, tapi setelahnya mereka disuruh untuk kembali ke rumah, Sebenarnya ada kenyataan dibalik kalimat itu, ada sebagian tunawisma yang memilih kabur dari rumah karena berbagai kondisi hidup yang tidak kondusif. Tapi, bagaimana dengan tunawisma dalam artian harfiah?

Sebetulnya tunawisma memiliki perlindungan pemerintah, dalam situasi pandemi ataupun tidak. Dinas Sosial di tiap-tiap daerah memiliki panti yang siap menampung para gelandangan dan pengemis. Sayangnya, banyak juga dari mereka yang memilih untuk tetap di jalan karena alasan kebebasan, dan lain-lain.

Tentu mereka tidak sepenuhnya salah, pemerintah juga masih tidak tegas saat memberantas ketunawismaan di negara ini. Tidak jarang saya mendapati gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di sekitar gedung pemerintahan. Tapi di luar itu, saya tidak tahu apakah ada faktor lain yang membuat para mantan penghuni panti lebih memilih untuk kembali ke jalanan.

Pada akhirnya, saya hanya pengamat yang melintasi jalanan dengan kenyamanan motor pribadi saya. Mungkin kamu berpikir alangkah lebih baik kalau saya turun sejenak dan berbincang dengan mereka, mendengar langsung semua isu ini dari sudut pandang pertama. 

Sebenarnya saya juga berpikiran sama, tapi segenap keberanian masih saya kumpulkan. Untuk sekarang, sayangnya, saya baru bisa menulis dari sudut pandang orang berprivelese yang mencoba untuk lebih kritis dan empatik terhadap orang lain. 
https://www.imdb.com/title/tt11316824/
© GDH

To be able to move on from her painful memories, Jean decided to change her life to be a minimalist. She seeks comfort in overwriting her memories, as she sells and gives back the things that used to be a bridge for all the relationships she had. She finds herself struggling half way, not expecting everything’s going as planned as her stoic persona. In the process, she learns what minimalism really is.

As a minimalist, this movie intrigues me from the moment I saw the poster. The concept of minimalism can be found in several documentaries and variety shows, though still uncommon to be found in mainstream movies.

Just like many pop movies, the topic of romance very much supports the whole plot, while also using minimalism basic principles to separate each segment. Not that I hate it, but sometimes the minimalism gets too sidetracked because of the main character’s sole purpose to redeem her guilt. With that being said, I’m going to discuss several things I disagree and agree with.

Four Points I Disagree with

1.      The monochrome aesthetic
A misconception of minimalism is that you have to limit the use of color in life, which is completely wrong. Minimalism in lifestyle and art/design correlates to each other but not necessarily to be applied together. In terms of art/design, minimalism refers to a particular visual style, but if we’re talking about lifestyle it’s more about the practice.

The sentence “less is more” perfectly describes minimalism, but it’s important to note that it differs for everyone. When the closet is dominantly colorful rather than monochrome, it doesn’t make you less of a minimalist. To be a minimalist is to get rid of all excessive and unnecessary stuffs, not solely to be aesthetically pleasing.

Buying aesthetically monochromatic stuffs to begin a minimal life is a wrong move. The point of it all is to use things you already have, so spending more money doesn’t seem to be theoretically right, no?

2.      The digital
Cloud storage has been a breakthrough for modern life, because everything can be permanently stored, regardless of the size. This is one of the best short-cuts to be a minimalist, but still it’s not for everyone.

Reading, for example, is a pleasure that depends on the individuals. PDF and e-books are countless and takes no additional space, but what if the freshly printed smells is the one that adds up the pleasure? Just like Marie Kondo says, “Does it spark joy? If it does, keep it.”

3.      The concept of letting go
The point of minimalism is to keep what’s essential, so to let go seems to be amiss. For beginners, letting go may be the main idea, but not for the concept in general. When you already have less stuff to take care of, what are you going to throw away?

Hence, there’s another concept closely related to minimalism known as decluttering. Every minimalist has their own period of decluttering, which can be monthly or weekly and it covers every aspect in life from physical, digital, to emotional.

When you were having a bad time and decided to be indulged in a stack of products you bought from online shopping, for example. That is when you need to declutter everything and look back for what’s essential. It can also be the endless pictures you’ve taken for a completed project, everything that happened within a flash and not relevant anymore.

4.      The idea that “throwing someone isn’t like throwing stuffs”
It can be. Jean decided to return all the things she borrowed from her friends and ex-boyfriend, but that’s only right because she’s in the wrong. Although she does it for the sake of her own self, to be free from her own guilt. When the person on the other hand is someone who reminds you some painful moments in your life, sometimes it’s better to just forget and move on.

Four Points I Agree with

1.      “You’re not going to remember what you put into the trashcan”
The first step of being a minimalist is to declutter and sort everything out, and it’s not as easy as it sounds. Just like what happens in the movie, there will be moments when you feel like giving up because of a sudden nostalgia.    

When memories take over, it’s going to be hard to let anything go. The easiest way to overcome it is to remind yourself that memories doesn’t live in things, it’s in us. Everything that happens in the past had been recorded somewhere in our heads already, so live in the moment and don’t worry about the past. After dealing with stacks of trash bags, you’re not going to remember what you’ve put into the trashcan anyway.

Still, it doesn’t mean you need to completely throw away every single thing. A photograph of your deceased grandparents doesn’t really take extra space, but their clothing does. To deal with it, there’s a lot of alternatives you can do with it.

2.      It doesn’t always have to end up in the trashcan.
In the beginning of the movie, Jean doesn’t want to sell her possessions but she eventually decides to do it for the sake of her office-renovation funding. This is the best option that can come out from decluttering, turning a stack of clothing into money.

For creative people, you can turn what you have into something else. Take the example of your grandparents clothing, the antique and old-school patterns can be turned into a nice handkerchief or even a new outfit with a whole different design. You can turn forgotten things into more daily relevant tools.

If you feel like being a good Samaritan, there’s always a place to donate. You don’t even need to donate formally, you can always ask anyone around you if there’s anything they’ve been feeling like buying but haven’t had the money for it.  

3.      “You can’t just pressure anyone and expect them to do it like you”
No matter how good the practice is, it’s always deemed to be bad by some people. Some people are more comfortable to be a maximalist rather than minimalist, and the difference lies on the value that they hold.

When you live with several people, whether it’s family or friends, you can’t be selfish. Jean pressures her mom because she wants to move on, and she sold her mom’s piano anyway. This is such a problematic choice of declutter.

Take a minimalist youtuber’s experience, Matt D’Avila, who lives with his non-minimalist girlfriend. Everything works well only when you can compromise with each other. Agree to disagree is the best way to settle things peacefully.

Even for minimalism itself, no standard exists. It’s about the essence of one’s life and no one can dictate what works for your life. Minimalist A may be using only two pairs of shoes because they work for home, but Minimalist B may need to change up until 6 shoes because their job includes meeting people in different settings.

4.      The destination
Jean decides to be a minimalist mostly because she feels the need to move on, aside from being an interior designer. She says minimalism is a way to let go many times and that is not the only truth out there.

For some people, minimalism can be very helpful for moving on but it is also very helpful for money saving. Imagine all the money you can save when you’re not busy checking out your shopping cart on market place. For some people, it can be the best option to be cleaner. With less stuffs you own, less dust to deal with.

The most important thing is that, minimalism takes you many steps closer to be free, free from the painful past, the overwhelming bills, the abundant nonsense from toxic people. Be free from anything that’s been holding you back and do it your own way.

Final Verdict
There’s nothing wrong in changing your life in order to move on, what’s wrong is when you pressured others to do the same. The ideas of minimalism that Jean applied in her life is not wrong, but not completely right as well. From a minimalist perspective, she does what she wants to do and that’s completely fine, and learns that not everyone is willing to do the same thing. Changing one’s life is a process, and it’s not an easy feat.

Regardless, she seems to be very hard-headed until the very end of the movie. Although she learns that most people aren’t on the same page as her, she decides to close her eyes and push anyone that stands in her way. The worse thing that comes out of this scenario is how she sets a single standard for everyone, which is very misleading for people who doesn’t have any idea about minimalism.

It irks me how she portrays minimalism as a white and black textbook when in fact it’s a colorful narrative. If I had to choose, I’d side with her friends and family who speaks some senses into her cold-hearted rules. The process of being a minimalist doesn’t need to be that painful.

7.5/10

https://upinteriors.com/space/photo/white-bedroom-with-floor-bed-dl-house-by-urbastudios/
 © URBAstudios

Pernah dengar konsep Minimalism dan Intermittent Fasting? Konsep minimalisme sudah banyak diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, sedangkan konsep yang satunya baru mulai sering dilontarkan para selebriti luar negeri sebagai jenis diet favorit mereka. Menariknya, kalau kamu anak kosan, dengan catatan demografik kelas menengah ke bawah, mungkin sudah lama hidup dengan konsep ini. How come? Ya karena dua konsep ini dasari hal yang sama: nggak bikin kantong kering.

Minimalisme bukan cuma estetika semata, konsep ini adalah konsep lifestyle yang akan sangat bermanfaat untuk semua jenis kalangan, khususnya anak kosan. Semua diawali saat saya sering gabut dan scrolling Pinterest. Sebagai orang yang kalau beli baju lewat online shop bisa sebulan lima kali, tidak kerasa baju saya sudah menggunung di dalam lemari. 

Saya yang saat itu sedang sering down berpikir bahwa aktivitas konsumerisme dapat membuat saya lebih bahagia, selayaknya sistem yang menawarkan kondisi hidup yang lebih baik dengan memiliki barang-barang mahal. Walaupun banyaknya baju di lemari saya amat sangat memadai untuk tidak memakai baju yang sama untuk sebulan, saya hanya pakai baju yang itu-itu saja, which is masalah yang sangat relatable untuk banyak orang.  

Saya mulai risih sendiri dengan padanan baju yang membosankan dan mulai mencari inspirasi di Pinterest. Di sinilah saya terekspos dengan Capsule Wardrobe, konsep berpakaian untuk orang-orang dengan gaya hidup minimal. Dengan hanya dua kaus, dua blus, tiga jenis celana, dan dua jenis luaran, ternyata saya bisa mempadu-padankannya untuk berbagai aktifitas selama berbulan-bulan. Dengan adanya pilihan yang terbatas, kreatifitas pun ikut jalan, waktu untuk siap-siap jadi lebih cepat, dan kata Matt D’Avila, seorang youtuber minimalisme, menyuci baju tidak akan bikin capek lagi.

Semenjak itu saya tertarik untuk mempelajari lebih lanjut apa sebenarnya dan bagaimana penerapan teori minimalisme. Mulai dari buku The Minimalist yang ditulis dua sahabat mantan budak kapitalisme hingga video dari Youtuber seperti Matt D’Avila dan Rachel Aust. Dari buku itu saya mengerti alasan kenapa aktivitas konsumerisme yang menghidupi kapitalisme tidak membuat saya lebih bahagia. Seperti kata The Minimalist, fokus ke aktivitas dan hubungan yang ada di hidup ini, bukan ke materi yang di akhir hanya akan menjadi tumpukan sampah. 

Saya sadar kalau yang saya harus lebih banyak keluar kosan dan melihat dunia secara langsung dibandingkan hanya rebahan dan mengharapkan sehelai kaus dengan motif polkadot akan membuat saya senang. Memang saya senang, tapi hanya sesaat bila dibandingkan dengan aktifitas nyata seperti mengikuti komunitas relawan misalnya. 

Perlu dipahami, minimalis tidak sama dengan pepatah “money won’t bring you happiness” ya. Secara personal, uang juga membantu saya untuk mengikuti kelas kerajinan dan membeli tiket kereta api untuk berlibur ke Jogjakarta, misalnya. Tapi memang semuanya kembali lagi ke hal apa yang ingin dibatasi dengan konsep minimalisme ini. 

Merasa sudah hidup seperti ini karena faktor biaya dan merasa baik-baik saja? Congrats! Karena memang hidup akan lebih berarti saat kamu tidak berpegangan dengan materi-materi fisik.

Tapi ada satu pandangan yang menyimpang, minimalisme bukan berarti barang yang kamu miliki harus berestetika minimalis ya, tapi lebih ke kegunaan barang itu sendiri. Misalkan kamu hanya punya dua kaus dengan motif yang ramai, yang notabene berseberangan dengan teori  desain minimalis, bukan berarti kamu harus membeli kaus baru dengan warna monokrom. 

Dari documenter The Minimalist, kamu bisa lihat banyak orang yang menyukai pakaian dengan berbagai macam pola dan warna tetap hidup lancar sebagai minimalis. Cocok banget kan untuk gaya hidup anak kosan melarat? Hidup minimalis itu menekankan fungsi dari materi, bukan hanya estetika untuk feed Instagram. Kalaupun iya, sah-sah saja karena toh itu hak mereka.

Untuk makan pun, konsep yang satu ini juga merembet ke minimalisme. Untuk tipe anak kosan seperti saya yang jarang ngemil dan makan berat maksimal dua kali sehari, diet ini kayanya tidak akan susah diterapkan. 

Selain karena faktor finansial, saya pikir saya tidak harus sering olahraga karenanya. Sebenarnya mau bagaimanapun pola makannya kita harus tetap rajin berolahraga, tapi beginilah logika saya yang pemalas. Saya yakin banyak anak rantau lainnya yang memiliki pola makan seperti ini, sampai saya membaca sebuah artikel seorang selebriti dengan diet Intermittent Fasting. 

Lebih dengan mengatur waktu mengkonsumsi makan daripada membatasi jenis makanan, inti dari diet yang satu ini adalah jeda waktu. Bisa dibilang mirip dengan konsep puasa setengah hari, sebagian metode dari diet ini mengharuskan kamu untuk tidak makan apapun selama 16 jam di luar jam makan siang. Selama masa “berpuasa” ini kamu boleh tetap minum ya, asal bukan minuman dengan gula seabrek seperti brown sugar dan boba milk tea. 

Tren ini mulai ngetren dicoba artis Hollywood mulai dari Kourtney Kardashian, Hugh Jackman, sampai penjaga galaksi, Chris Pratt. Jadi untuk kamu-kamu yang biasanya merapel makan, sadar nggak sadar kamu sudah hidup sehat dan modern nih.

Kalau sudah paham konsep-konsep modern yang intinya more is less ini rasanya kamu jadi lebih sah untuk menyombongkan diri. Daripada menjelaskan dengan alasan “karena aq misqueen,” sekarang kamu bisa bilang “hey, ini gaya hidup modern ala artis Hollywood.” 

Lagian apa urusan mereka ngata-ngatain anak merantau yang sedang berjuang untuk masa depan yang lebih baik? Biarin aja kamu pakai baju yang itu-itu aja dan makan seadanya, yang penting kebutuhan dasarmu sudah aman. Satu pesanku untuk sesama anak kosan di luar sana: you’re doing great sweetie.


By Source (WP:NFCC#4), Fair use, https://en.wikipedia.org/w/index.php?curid=63176354

© Universal Pictures, Blumhouse Productions

*Proceed only if you: have watched the movie or don't care about spoilers.

The Invisible Man (2020) is, above all, heartbreaking. It's so much more than a thrilling ghost story, it's about a man who ruins a woman's life by controlling her. The sad truth is that this exact thing is happening, even right now, as I type this.

In the patriarchal system, most women are used to being controlled by a man. It’s been years since women were expected to serve men in every way possible, in the living room, dining room, and mostly bedroom. It's as if we live just to take care of them, of course they do take care of us in terms of financial, but other than that we’re like no more than a servant. Household chores are supposedly a shared responsibility for everyone who lives under the roof, but let's put this aside for now. 

In this movie, we can see how heartbreaking it is to see a woman who fights for her rights, for her own freedom. Cecilia/Cee (Elizabeth Moss), has to put up with everything Adrien (Oliver Jackson-Cohen) tells her to do. Not only that she has to ask for her husband’s approval to dress-up and travel, she also has to think the way he wants her to think.

Rather than patriarchy in general, this can be called an abusive relationship, considering that the term is too broad for this case. I believe a man can still act nicely with a patriarchal system in mind, and as long as their partner wants to be in that position. Nevertheless, this case of abusive relationship stems from the men who abuse their power in a patriarchal society. When a man knows that he has power over the woman and uses it without considering the woman’s will, then it’s a toxic masculinity, a dark side of the patriarchal system.

Adrien knows how people won’t believe a wide-eyed anxious woman, a woman who rambles about her dead husband, a woman who tells everyone she’s the victim without having any clear evidence. He knows exactly how the society works and this is where the horror lies.

How many times have you seen headlines about women going on the court countlessly just to prove sexual harassment men did to them? Sexual harassment and law are having such complex relationship, but most of them time it’s only cornering the victim. It’s not easy to look for evidence when a stranger grabbed your intimate parts in a crowded bus, for instance, and not to mention the people who are doubting the event and framing the victim as somewhat delusional.

It’s so much harder when everyone chooses to doubt them instead of supporting and comforting. Questions like “are you sure that happened?” “maybe it was an accident,” “why didn’t you scream?” are only making it harder for the victim. Listening and staying by their side is the best option, but some people don’t seem to be capable of having this basic form of empathy.

As the story escalates, Cee becomes some sort of a delusional and psychopathic woman just as her husband wished. The plot is definitely heartbreaking to watch because I’ve heard similar stories from women in all places, all ages, and all religions. There are many women who even lost their sanity after being harassed and not being taken seriously by the people around them.

When the movie ends with Cee finally getting her revenge is when I get disappointed. Punishing Adrien with life-time sentence or any other revenge that takes time will be much more satisfying rather than killing him in a minute. Adrien harasses and abuses Cee for years, so it’s only right if he feels it too. I don’t condone abuse and harassment, except for rapists and abusers just like him.

In the end, I don’t think The Invisible Man refers to only men’s physical presence, but also all of their presence in every way possible. Every aspect in life that men with toxic masculinity and psychopathic tendencies expected women to do for them. This movie is heartbreaking, because of how real the issue is.

Final Verdict

Except for the ending and the half-cooked sci-fi aspect, the movie is actually one hell of a ride. The suspense and frustration are all there, but the sci-fi back story doesn’t really make sense. You can’t really say this as a sci-fi horror, because the science is only there for a small amount of the story. It doesn’t really explain and justify everything, it’s just there. On top of all, kudos for the represented issue.

7.5/10

Note: I know toxic masculinity and patriarchal system are two sensitive and complex topics to be discussed only in a paragraph, but this article was written to give you the general view of the issue represented in the movie. All opinions are completely mine and if you feel the need to correct or/and argue, then feel free to leave comments or contact me via Twitter.

Linna Amanda, 2020
© Linna A

Bandung, Jakarta, dan sebagian besar kota di Indonesia memang belum menerapkan hukum lockdown (karantina wilayah), tapi warganya sudah cukup pintar untuk mengikuti aturan social distancing yang marak dikampanyekan dengan slogan #DiRumahAja. Imbas dari himbauan pemerintah ini adalah kosongnya jalanan dan area publik yang sebelumnya selalu ramai, suatu kondisi yang disebut liminal space.

Liminal space adalah suatu keadaan transisi atau transformatif, keadaan di saat kamu sedang berada di antara sesuatu yang kamu tahu dan sesuatu yang tidak kamu ketahui. Kata dasarnya, “liminal,” berasal dari bahasa latin “limen” yang berarti threshold atau “ambang.” Jadi, liminal space adalah tempat atau sesuatu yang berada di ambang batas, di tengah-tengah, di antara.

Kata liminal juga dipakai untuk teori liminalitas di ranah antropologi yang lebih mengarah ke keadaan “ke-terombang-ambingan.” Di saat seseorang merasa bingung dengan latar belakang budayanya, dia akan mencoba mencari identitas yang baru. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di sini. Keilmuan arsitektur juga menggunakan istilah yang sama, di mana liminal space diartikan secara literal; suatu ruang yang mempertemukan beberapa ruang berbeda. Klik ini kalau kamu masih penasaran.

Keadaan ini bisa dirasakan secara fisik maupun non-fisik. Untuk kamu yang pernah merasakan diputusin pacar, misalnya. Kamu yang sudah terbiasa mendapatkan interaksi yang intens dan tiba-tiba tidak mendapatkan interaksi apapun mungkin akan merasa hilang arah. Kamu belum tahu ke depannya harus bagaimana karena kemarin setahu kamu dunia aman sejahtera, di sini kamu merasakan transisi non-fisik.

Sama halnya saat kamu baru lulus kuliah, meninggalkan kampung halaman untuk merantau, bahkan menunggu hasil dari dokter. Semuanya punya satu hal yang sama: menunggu untuk perubahan yang tidak tentu.

Sebenarnya situasi lockdown ini juga termasuk liminal space non-fisik. Awalnya pemerintah menghimbau warga untuk berdiam diri di rumah untuk dua minggu, dan sekarang status darurat sudah diperpanjang hingga 91 hari. Kondisi ini sesuai dengan artian liminal di mana kita sedang menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti. Apakah setelah 91 hari semuanya akan kembali seperti semula? Apakah statusnya malah akan diperpanjang? Kita semua sedang terperangkap di ruang  yang sama.

Secara fisik, konsep ini bisa dirasakan di tempat-tempat yang “seharusnya ramai tapi sepi.”  Seperti stadium sepak bola di saat tidak ada pertandingan, pusat perbelanjaan tua yang sudah jarang dikunjungi, atau gedung sekolah di malam hari.

Tempat-tempat yang berfungsi untuk kegiatan transisional juga termasuk, seperti lorong hotel, supermarket saat tengah malam, dan juga area basemen parkiran saat kamu selesai nonton bioskop tengah malam. Tidak ada yang menetap, semuanya hanya mampir sejenak.

https://hallscientific.wordpress.com/2017/11/19/weariness-of-the-unfamiliar-the-liminal-space/

Mudahnya, jika saat berada di suatu tempat kamu merasa seperti di dua dunia berbeda maka tempat itu bisa dibilang liminal space. Ada perasaan tidak enak bahkan ketakutan yang ditimbulkan saat kamu berada di tempat-tempat ini. Karena kamu sudah terbiasa dengan area publik yang difungsikan untuk kegiatan bersama, di saat tidak ada orang yang menggunakannya, atmosfirnya akan sangat berbeda.

Akhir-akhir ini, banyak yang menginformasikan keadaan liminal space di berbagai kota lewat sosial media, mulai dari Jakarta, Bandung, bahkan Italia dan New York. Tempat-tempat yang biasanya penuh dengan warga lokal dan turis tampak lengang. Sebuah pemandangan yang sangat-sangat jarang terjadi.
¿Alguna vez imaginaron cómo se vería el mundo sin humanos? Bueno, así luce hoy el planeta tierra: pic.twitter.com/wyZsqi3BAd
— Imágenes Históricas (@HistorieEnFotos) March 28, 2020

Sekilas, keadaan ini juga bisa dibilang menyeramkan karena kota-kota besar terlihat seperti situasi pasca-apokaliptik atau kota hantu. Sama halnya dengan liminal space yang sering dikatikan dengan hal-hal mistis karena auranya yang seperti dunia di antara dua dimensi. Kondisi ini sama seperti kejadian beberapa kota hantu yang ditinggalkan warganya karena kejadian alam ataupun kurangnya jaminan hidup.
Jalan Sudirman lengang hari ini. Kamu besok masih ngantor atau sudah work from home?

📷 Kompas/Agus Susanto pic.twitter.com/SD3BtcXvjP
— Gie Wahyudi (@giewahyudi) March 22, 2020

Saya sendiri terakhir melintasi kota Bandung dari Selatan ke Utara sekitar sepekan lalu. Waktu masih menunjukkan jam tiga sore, namun lengangnya jalanan sama seperti sepinya Bandung selepas jam sepuluh malam. Cuaca hari itu cukup cerah, saya yang awalnya mengendarai motor dengan kencang mulai memelankan kecepatan karena saya baru tersadar, kapan lagi jalanan Bandung di siang hari sepi seperti ini?

Sempat terpikir untuk berhenti sejenak dan memfoto keadaan, tapi saya sibuk menyerap keasrian kota kembang ini. “Bandung ternyata jalannya besar-besar,” saya pikir saat itu. Selama enam tahun tinggal di sini, baru pertama kalinya saya menyadari hal tersebut. Sebenarnya, saya terbiasa pulang malam dan pergi pagi, tapi berbeda rasanya saat mengalami hal ini di siang hari. Semuanya terasa tidak nyata, seakan-akan saya masuk ke foto-foto kota Bandung 40 tahun yang lalu.

Situasi jl Asia-Afrika menuju jl sudirman. Cuaca gerimis terlihat penjual bandros melintas pic.twitter.com/GcAhDAbzAV
— rubiyanta (@rubiyanta83) March 29, 2020

Liminal space ini merupakan sesuatu yang tidak asing untuk saya sendiri. Sebagai orang yang selalu terombang-ambing dengan pikiran dan perasaan sendiri, saya selalu mengimani konsep ini. Saya percaya kalau tidak ada yang pasti di dunia ini dan karena itulah, saya menerima bahwa mungkin memang frekuensi saya memang tepatnya di ruang-ruang tidak tentu seperti ini. 

Kembali ke situasi terkini, kondisi ini juga mendatangkan ke berita positif. Bukan hanya menurunnya potensi penularan virus, tapi juga menurunkan polusi. Berbagai media telah mengabarkan polusi di China dan Eropa yang sudah menurun dengan tajam. Dengan tidak adanya kendaran yang lalu-lalang di jalanan dan berkurangnya industri yang berjalan, alam berusaha memperbaiki kekacauan yang telah kita buat.

Liminal space mengajarkan bahwa fase transisi dan transformatif ini, walaupun memberi kecemasan dan ketidaknyamanan, juga memberi kita waktu untuk berhenti dan bernafas sejenak. Manusia yang sudah terbiasa hidup dengan tempo yang serba cepat juga harus memperlambat langkah, agar kita dapat melihat dan mengingatkan diri untuk mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan.

Saya yakin setelah lockdown ini, kita akan keluar rumah dengan lebih bersyukur. Menghargai dan menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sebelumnya tidak pernah disadari. Appreciate what you have, before it turns into what you had.

Older Posts Home

IG

Topics

After Cinema Thoughts Been There Done That Design EPH Fiction How This World Works Literary Response Literature Class Movie Review Not So Gamer Thoughts Personal Poetry Pop Culture Pop Culture Recap recommendation list The Internet Loves It Thoughts of the Papers What to Watch
Powered by Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  February (1)
      • Lonely in the '60s: How That Era Speaks to Me
  • ►  2025 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2020 (10)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (3)
    • ►  March (5)
  • ►  2019 (6)
    • ►  November (6)
  • ►  2017 (16)
    • ►  January (16)
  • ►  2016 (19)
    • ►  June (19)
  • ►  2014 (2)
    • ►  December (2)

Copyright © /lnnatic/. Designed & Developed by OddThemes